Hidden Figures: Menyentil Diskriminasi dengan Cantik

Jadi nggak ada yang asik dari diskriminasi. Apalah itu, si A orang kulit hitam, si B kulit putih, toilet si A di sana, si B punya tempat khusus. Go to hell! Sayangnya secara nggak sadar, kita sering melakukan pemilahan-pemilahan tersebut dalam pikiran. Padahal kata Pak Pramoedya, kita harus adil sejak dalam pikiran.

Kalau melihat hal seperti itu, saya jadi getem-getem sendiri alias mangkel alias jengkel. Lha wong sama-sama manusianya aja kok ya dibeda-bedakan. Wong nanti kalau kentut baunya juga sama. Eh. Janganlah kayak gitu ya, siapa tahu orang yang kamu diskriminasikan itu suatu saat menolongmu atau memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari pada kamu. Nah lho.

Inilah yang menjadi framing pada film Hidden Figures. Alkisah 3 wanita keturunan Afro-Amerika bekerja pada NASA. Jangan dikira mereka ini mendapatkan jabatan yang wow di badan antariksa Amerika tersebut. Tugas mereka adalah menjadi „komputer“ alias kalkulator saja dan dijadikan pegawai sementara di divisi yang membutuhkan.

Kemudian nasib mereka jadi lebih baikan setelah seorang matematikawati bernama Katherine Johnson (Taraji P. Henson) dipanggil untuk melakukan kalkulasi atas penerbangan John Glenn (Glen Powell) sebagai manusia pertama dari Amerika yang mengorbit bumi serta kedua temannya yang juga perlahan tapi pasti mulai merangkak naik.

Jangan dikira lagi pekerjaan ketiga wanita keturunan Afro-Amerika ini semulus paha girlband KPOP, mereka harus menguatkan hati menghadapi perlakuan rekan kerjanya yang berbeda lantaran ia memiliki kulit ‘berwarna’. Namun, berkat kegigihannya ia berhasil melakukan perhitungan tersebut.

Hidden Figures menyentil cara kita memandang perbedaan, sekaligus mengajarkan kita cara bertahan menghadapi diskriminasi. Ke-3 tokohnya nggak mengeluh dan menyerah begitu saja, mereka justru bangkit berjuang dan membekali diri sendiri agar tak semakin berada di bawah para kulit putih.

Janelle Monae, Octavia Spencer, Taraji P. Henson tampil memikat dengan arahan dari Theodore Melfi. Setelah menonton Hidden Figures baru sadar kalau tahun 60 an rasisme di Amerika sangat kental, sampai-sampai toilet untuk keturunan Afro-Amerika saja dibedakan.

Saya paling seneng adegan sewaktu Katherine lelah dengan segala diskriminasi yang dialaminya. Saat melihatnya saya seneng banget, karena ya begitulah satu-satunya cara menyatakan ketaksukaan pada diskriminasi. Dengan catatan, kalau bisa lebih baik mending dilakukan dengan duduk manis sembari menyeruput kopi. Penasaran sama adegannya? Cus tontok!

★★★★★

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *