Beauty and The Beast: Nostalgia yang Menghanyutkan

Tale as old as time…

Sudah sejak tahun saya menyenandungkan lirik lagu Beauty and The Beast tersebut. Halah lebay! Tapi serius, saya nggak sabar banget buat nonton live action Beauty and The Beast sejak teasernya bermunculan di dunia maya. Apalagi setelah tahu kalau live action animasi Disney ini konsepnya musikal dan memborong hampir semua lagu-lagu lamanya. Wah! Semakin nggak sabar.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, Beauty and The Beast tayang di bioskop-bioskop terdekat di kota Anda dan memang Beauty and The Beast versi live action ini nggak jauh beda sama versi animasinya. Namun, ada beberapa plot tambahan yang membuat jalinan kisah Beauty and The Beast semakin sempurna.

Narasi prolog Beauty and The Beast yang menghanyutkan

Adegan pembuka sebuah film bisa menggiring animo penonton. Karena itu, kalau sebuah film dibuka dengan adegan yang biasa-biasa saja, bakalan kurang menggugah selera penonton. Hebatnya Bill Condon berhasil meracik sebuah adegan pembuka yang menarik, yaitu sebuah prolog yang bikin kita merasa dibacakan sebuah dongeng dari masa lalu. Salut sama narrator di awal film yang suaranya berhasil menghipnotis.

Bill Condon juga menambahkan adegan megah pesta dansa yang menjadi jembatan ke adegan Sang Pangeran (Dan Evans) dikutuk oleh seorang penyihir (Hattie Morahan). Selanjutnya giliran Belle (Emma Watson) yang semakin membangkitkan kenangan dengan nomor klasiknya, “Belle”. Pembuka tersebut tentu saja berhasil menyentuh hati mereka yang sudah menonton versi animasi tahun 1991.

They add some new numbers in Beauty and The Beast

Bagi yang sudah nonton versi animasinya, pasti akrab banget sama lagu-lagu yang ada di Beauty and The Beast. Favorit saya adalah Be Our Guest. Nomor ini masih didendangkan pada versi live actionnya, plus sentuhan baru yang bikin lagunya makin kece.

Nah, di Beauty and The Beast versi live action mereka menambahkan beberapa nomor yang nggak kalah merdu, seperti Evermore. Kenapa yang kesebut pertama lagu ini? Wah, kamu nonton dulu deh biar dapet feelnya.

Bagi saya lagu ini sangat menyentuh. Kurang lebih menceritakan tentang persiapan seseorang menyambut sebuah penantian yang panjang. Ah!

Wasting in my lonely tower
Waiting by an open door
I’ll fool myself she’ll walk right in
And be with me for evermore

Selain itu masih ada beberapa lagi track baru di Beauty and The Beast yang nggak kalah serunya, seperti How Does A Moment Last Forever yang versi aslinya dinyanyikan sama Celine Dion. Dan yang pasti nggak ketinggalan juga adalah nomor Beauty and The Beast sebagai music pengiring dansa Belle dan The Beast.

Girl Power and diversity through Beauty and The Beast

Pemilihan Emma Watson sebagai pemeran Belle, rasa-rasanya ada tendensi untuk semakin memperkuat femininisme yang lekat dengan imagenya. Ini teori aja lho ya. Terlepas dari benar nggaknya teori tersebut, tetap saja tema girl power dalam Beauty and The Beast layak jadi perhatian.

Selain tema girl power, Beauty and The Beast juga mengusung satu isu yang panas di abad ini, yaitu orientasi seksual. Disney sengaja membuat salah satu karakternya yaitu Le Fou (Josh Gad) berorientasi seksual gay. Tapi, tenang aja nggak ada adegan vulgar kok di sini. Senangnya Indonesia lebih terbuka ketimbang negara tetangga. Lha kalau minta dipotong mah, bisa-bisa satu nomor yang berjudul “Gaston” ilang sepenuhnya. So proud of girl power and diversity theme in Beauty and The Beast.

Conclution…

Beauty and The Beast memang film yang ditunggu-tunggu. Promo besar-besarannya nggak rugi karena Beauty and The Beast akhirnya hits! Plus film ini memang mengajak kita bernostalgia sama versi animasinya. Bill Condon berhasil meremake Beauty and The Beast dengan cantik dan memuaskan, meskipun unsur musikalnya agak terlalu berlebihan. Jadi sedikit mengingatkan saya sama Into The Woods.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *