Théo & Hugo, Erotis Nan Penuh Pesan Manis

PERHATIAN-PERHATIAN! SEBELUM LANJUT BACA ARTIKEL SAMPAI HABIS, YANG HOMOFOBIA SILAHKAN LEAVE 😉

Saya sudah ngasi warning lho ya, kalau lanjut terus tanggung sendiri resikonya. Baiklah, ehem. Kali ini saya mau kasih review film bertema LGBT dari sineas Prancis Olivier Ducastel dan Jacques Martineau. Dua sutradara tersebut berkolaborasi dan menghasilkan film apik berjudul Paris 05:59: Théo & Hugo.

Théo & Hugo dibuka dengan adegan super panas

Theo dan Hugo dalam sebuah klub seks [image]
Beberapa film bertema LGBT memang sarat akan adegan-adegan vulgar dan bahkan sampai menampilkan (sorry) kemaluan para aktornya. Yah, Eropa gitu lho. Kalau sering nonton film produksi Eropa pasti udah nggak asing lagi dengan pertunjukkan penis dan vagina.

Sama halnya dengan Théo & Hugo, sekitar 15 menit pertama kita disuguhi sebuah scene yang berlatar tempat sebuah klub seks sesame jenis. Hemmm. Namun, dari sinilah sebenarnya cerita dimulai.

Théo yang berada ditengah pesta orgy terpana pada seorang cowok bernama Hugo. Bla…bla…bla… Mereka akhirnya making love di tempat tersebut. Per-anu-an mereka ini nggak hanya berbalut nafsu belaka, tapi ada cinta yang bersemi di hati masing-masing.

Setelah selesai memuaskan hajat, mereka keluar dari klub seks dan berjalan bergandengan tangan. So sweet! Selama berjalan mereka saling mengungkapkan apa yang dirasakan dalam hati masing-masing. Hingga suatu kecerobohan terkuak, Théo lupa memasang pengaman saat mereka bercinta. Aduh!

Théo & Hugo mengingatkan kita akan bahaya free sex

Hugo menelepon rumah sakit [image]
Yang namanya kadung jatuh cinta memang bisa membuat lupa segalanya ya. Lupa kalau dunia ini bukan milik berdua dan lupa kalau belum mahramnya. Beberapa ada yang kebablas sampai melakukan yang ena-ena.

Nah, Théo & Hugo ini mengingatkan kita akan bahaya free sex. Sudah nggak perlu diberi tahu lagi deh ya, kalau free sex, apalagi berganti-ganti pasangan dan nggak memakai pengaman bakalan beresiko terjangkit penyakit menular seperti HIV.

Kalau pun sudah terlanjur terjadi, jangan segan-segan buat memeriksakan diri ke rumah sakit setempat ya. Kalau yang saya tangkap dari film ini, kontak pertama dengan penderita HIV berisiko sebanyak 0,62% tertular. Kecil memang, tapi jangan disepelekan lho ya.

Biasanya pengobatan awal akan memakan waktu selama 28 hari. Itu kasusnya kalau setelah kontak dengan ODHA, tapi kalau memang sudah positif terjangkit pengobatan bisa lebih lama lagi. Pokoknya jangan segan-segan berobat ya.

Théo & Hugo penuh dengan percakapan romantis

Theo & Hugo berpelukan [image]
Film cinta-cintaan, nggak peduli dengan lawan jenis maupun sesama jenis pasti penuh dengan kata-kata romantis. Kamu yang butuh materi rayu-merayu, banyak-banyak deh nonton film romantis. Kalo nggak merinding dengan adegan cup cup muah sesama jenis, boleh lho nonton Théo & Hugo.

Di Théo & Hugo bertebaran kalimat romantis. Dijamin wes, kalau dipraktekkan ke pasangan bakalan bikin hati meleleh. Kalau copas aja, jangan lupa ngganti kata ganti orang lho ya! Kalau sampe selendro, bisa-bisa si dia ngga jadi meleleh, malah meledak karena ngira kamu punya cem-ceman lain. Aduh!

Kalau nonton Théo & Hugo ini jadi ingat The Before Trilogy-nya Richard Linklater. Yup, selama sekitar satu setengah jam kita cuma menyaksikan Théo & Hugo ngobrol sambil jalan-jalan di Kota Paris.  Kronologi waktu Théo & Hugo dimulai dari pukul 04:47 dan berakhir di pukul 06:00. Dalam rentang waktu tersebut Théo & Hugo membicarakan banyak hal mengenai diri mereka masing-masing. Mboseni? Nggak! Adegan ngobrol mereka ini seru banget disimak, plus beberapa tokoh sampingan yang berhasil menuangkan warna lain pada film ‘dunia milik berdua’ Théo & Hugo.

Théo & Hugo ngobrol dengan penjual kebab adalah scene paling jawara

Adegan dengan penjual kebab [image]
Dalam sebuah film, saya selalu menemukan satu adegan yang paling berkesan. Di film Théo & Hugo ini pun saya menemukannya. Bukan, bukan adegan orgy di awal. Bukan juga adegan Hugo yang memuji habis-habisan ‘barang’ Théo. Yang menjadi adegan favorit saya adalah saat mereka ngobrol kilat dengan penjual kebab.

Adegan singkat ini membahas mengenai imigran yang banyak masuk ke Eropa. Lewat penuturan si penjual kebab, kita dibawa untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di daerah konflik. Sila simak kutipan dari mas-mas penjual kebab tersebut.

Perangnya mengerikan, tapi terlalu banyak ketidakadilan di sana…. Saya rasa kalian tidak paham, karena kalian bebas di sini. Kami tidak dapat mengobrol kepada siapa pun. Bahkan kepada teman universitas saya. Hidup tanpa pembicaraan itu tak tertahankan.

Théo & Hugo ini sayang banget kalau dilewatkan. Tepis dulu deh rasa ngeri sama percintaan sesama jenis. Fokus ke pesan moral yang dibawa. Selamat menyaksikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *